Lompat ke isi utama

Berita

Ngabuburit Pengawasan Bawaslu Berau Vol IV

Bawaslu Berau

Anggota Bawaslu Kabupaten Berau Tamjidillah Noor menjadi Narasumber 

Berau, Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Berau kembali menggelar agenda "Ngabuburit Pengawasan" secara virtual melalui aplikasi Zoom Meeting. Mengangkat tema yang sangat krusial menjelang tahapan Pemilu 2029, diskusi kali ini membahas tentang bahaya politik identitas dan isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) dalam kontestasi politik. Anggota Bawaslu Berau, Tamjidillah Noor, S.H., M.H. , hadir sebagai narasumber tunggal untuk mengupas tuntas potensi kerawanan tersebut di hadapan puluhan peserta yang terdiri dari mahasiswa, tokoh pemuda, dan perwakilan organisasi masyarakat.

Kegiatan yang berlangsung sore hari menjelang waktu berbuka puasa ini sengaja digelar secara daring untuk menjangkau partisipasi masyarakat yang lebih luas di tengah kesibukan berpuasa. Tamjidillah Noor membuka diskusi dengan memaparkan bahwa isu SARA merupakan salah satu kerawanan tertinggi dalam setiap penyelenggaraan pemilu, karena berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

"Isu SARA ini ibarat api dalam sekam. Ia bisa tiba-tiba menyala dan membakar persatuan kita jika tidak diantisipasi sejak dini. Politik identitas yang berlebihan, yang mengatasnamakan agama atau kesukuan untuk meraih kekuasaan, adalah ancaman nyata bagi demokrasi kita yang inklusif," tegas Tamjidillah di hadapan para peserta daring, Rabu (04/03/2026).

Mengacu pada pengalaman pengawasan pemilu dan pilkada sebelumnya, Tamjidillah menjelaskan bahwa politisasi SARA sering kali tidak muncul secara vulgar, tetapi dikemas secara halus melalui narasi-narasi yang membelah masyarakat. Ia menyoroti bahwa ruang digital menjadi arena utama penyebaran konten-konten provokatif bernuansa SARA.

"Modusnya semakin halus dan sulit dideteksi. Kadang berupa candaan, meme, atau konten kreatif lainnya yang secara tidak langsung menyerang kelompok tertentu berdasarkan identitasnya. Ini yang harus kita waspadai bersama, terutama di media sosial yang menjadi konsumsi sehari-hari generasi muda," ujarnya.

Tamjidillah menegaskan bahwa Bawaslu memiliki kewenangan untuk menindak tegas setiap bentuk kampanye yang mengandung unsur SARA, ujaran kebencian, dan provokasi yang dapat mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. Pihaknya telah berkoordinasi dengan berbagai stakeholder, termasuk aparat keamanan dan platform media sosial, untuk melakukan pengawasan siber secara intensif.

"Kami tidak bisa bekerja sendirian. Pengawasan partisipatif masyarakat adalah kunci utama. Jika menemukan konten atau pernyataan yang mengarah pada politisasi SARA, segera laporkan kepada Bawaslu. Jangan biarkan ruang digital kita dikotori oleh narasi-narasi pemecah belah," imbaunya, mengulang komitmen lembaga yang telah ditegaskan dalam berbagai kesempatan sosialisasi.

Lebih lanjut, Koordinator Divisi Penanganan Pelanggaran dan Penyelesaian Sengketa ini mengajak masyarakat untuk menjadi pemilih yang cerdas dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu identitas. Menurutnya, pemilih yang baik adalah mereka yang memilih berdasarkan visi, misi, dan program kerja calon, bukan berdasarkan sentimen kesukuan atau keagamaan.

"Jangan biarkan hak suara kita dikendalikan oleh isu SARA. Fokuslah pada rekam jejak calon, gagasannya untuk membangun daerah, dan komitmennya terhadap kesejahteraan rakyat. Isu SARA hanya akan menguntungkan pihak-pihak yang tidak percaya diri dengan programnya," jelasnya.

Tamjidillah juga mengingatkan bahwa pelaku politisasi SARA tidak hanya bisa dikenakan sanksi pidana pemilu, tetapi juga terjerat Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) serta KUHP tentang ujaran kebencian. Oleh karena itu, ia mengajak semua pihak untuk bersama-sama menjaga kondusivitas, baik di ruang nyata maupun ruang digital.

Menutup diskusi, Tamjidillah Noor berharap kegiatan ngabuburit virtual seperti ini dapat terus meningkatkan literasi politik masyarakat, terutama dalam mengenali dan menangkal isu-isu SARA yang merusak.

"Ramadan adalah bulan yang penuh berkah dan kebersamaan. Mari kita jaga semangat persaudaraan ini hingga setelah Ramadan, termasuk dalam menghadapi pemilu. Beda pilihan itu biasa, tapi persatuan bangsa adalah harga mati. Bawaslu Berau akan terus hadir mengawal agar pemilu kita berjalan damai, tanpa politisasi SARA," tutupnya.

bawaslu berau

Humas Bawaslu Kabupaten Berau