Bawaslu Berau Konsolidasi dengan GP Ansor, Natalis Lapang Wada: Isu SARA Jangan Dijadikan Alat Politik Pemecah Bangsa
|
Berau, Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Berau terus mengintensifkan langkah pencegahan potensi kerawanan pemilu dengan melibatkan berbagai organisasi kemasyarakatan. Kali ini, Bawaslu Berau menggelar rapat konsolidasi demokrasi bersama Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Berau. Kegiatan yang berlangsung pada hari Rabu, 13 Mei 2026, bertempat di salah satu kafe di wilayah Tanjung Redeb, dipimpin oleh Anggota Bawaslu Berau, Natalis Lapang Wada, dan diikuti oleh sejumlah staf Bawaslu Berau.
Membuka diskusi, Anggota Bawaslu Berau, Natalis Lapang Wada, menegaskan bahwa isu SARA merupakan ancaman serius yang dapat merusak sendi-sendi demokrasi dan memecah belah persatuan bangsa. Menurutnya, pengalaman pemilu-pemilu sebelumnya menunjukkan bahwa politisasi identitas kerap kali digunakan oleh aktor-aktor tertentu untuk mendiskreditkan lawan politik, memobilisasi massa secara emosional, dan menciptakan ketegangan horizontal di masyarakat.
“Isu SARA adalah bom waktu demokrasi. Jika tidak dikelola dengan baik, ia bisa meledak kapan saja dan merusak tatanan sosial yang sudah kita bangun puluhan tahun. Bawaslu tidak bisa bekerja sendiri. Kami membutuhkan mitra seperti GP Ansor yang memiliki basis massa kuat dan pemahaman agama yang moderat untuk bersama-sama melawan segala bentuk provokasi berbasis identitas,” ujar Natalis dengan tegas di hadapan para pengurus dan anggota GP Ansor yang hadir.
Ia juga mengingatkan bahwa Kabupaten Berau dengan keberagaman suku, agama, dan budayanya memiliki potensi kerawanan yang tidak boleh dianggap remeh. Mulai dari kelompok masyarakat pendatang, komunitas pesisir, hingga masyarakat pedalaman memiliki karakteristik dan kepekaan yang berbeda terhadap isu-isu sensitif.
“Jangan sampai perbedaan pilihan politik kemudian dibungkus dengan narasi agama atau suku tertentu. Ini sangat berbahaya. GP Ansor harus menjadi garda terdepan dalam menangkal narasi-narasi semacam itu, terutama di kalangan generasi muda yang sangat rentan terpapar hoaks dan ujaran kebencian di media sosial,” tambah Natalis.
Dalam paparannya, Natalis Lapang Wada menjelaskan bahwa GP Ansor memiliki posisi strategis karena jaringan strukturalnya yang tersebar hingga ke tingkat kecamatan dan desa/kelurahan di seluruh Kabupaten Berau. Organisasi ini juga dikenal memiliki komitmen kuat terhadap nilai-nilai kebangsaan dan Pancasila, serta secara historis terlibat dalam berbagai gerakan perdamaian dan dialog lintas iman.
“Kami tidak bisa meminta semua orang untuk tidak terpengaruh isu SARA jika tokoh-tokoh pemuda yang mereka hormati diam saja. Karena itu, peran GP Ansor sangat penting. Jadilah teladan. Jika pengurus GP Ansor berbicara tentang pentingnya persaudaraan lintas agama dan etnis, maka warganya akan mendengar. Jika GP Ansor menolak politik identitas, maka warganya akan mengikuti,” ujar Natalis.
Humas Bawaslu Kabupaten Berau